Minggu, 05 Juli 2015

MAKALAH URGENSI MATAN DAN HADIST



KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr, wb.
Bismillahirrahmanirrahim
Puji dan syukur saya panjatkan sepenuhnya kepada Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang ada, dengan Kekuasaan-Nya saya bisa menyelesaikan makalah ini.
Menyelami samudra sunnah yang dalam akan sangat banyak menemukan kekayaan makna yang dasar sampai kepada mutiara makna yang dalam. Para ulama telah memeras tenaga dan pikiran untuk meberikan jurus-jurus dalam melacak kebenaran teks, sehingga 90% ilmu hadist merupakan upaya untuk memfilter kebenaran hadist Nabi dan bukan. Fase itu telah dilewati cukup baik dengan munculnya sederet kitab hadist yang cukup penting sebagai bahan petunjuk pelaksanaan bagi keberagamaan kita.
Oleh karena itu, sudah selayaknya saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak M. Sar’an , M.Ag selaku Dosen Ulumul Hadist yang telah memberikan kesempatan untuk membuat makalah ini.
Akhirnya saya berharap semoga makalah ini dapat bermafaat. Sebagai sebuah hasil karya manusia yang sangat lemah, saya berharap kritik dan saran yang tulus dan konstruktif untuk kesempurnaan karya tulis ini. Mudah-mudahan Allah memberikan kita ketajaman akal dan hati bisa mengambil hikmah dari makalah ini.
Alhamdulillahirabbil’alamin.
Wallahu’alam bissawab.
Wassalamu’alaikum wr. wb
Serang, 18 Mei 2015


Penulis.





DAFTAR ISI

Kata pengantar            ………………………………………………………

Daftar isi                     ………………………………………………………

BAB I                         ………………………………………………………

PENDAHULUAN     ………………………………………………………

A.    Latar belakang                  …………………………………………………
B.     Rumusan masalah   …………………………………………………
C.     Tujuan penulisan    …………………………………………………

BAB II

PEMBAHASAN          ………………………………………………………

A.    Pengertian sanad dan matan hadist  ………………………………….
B.     Sanad dan hubungannya dengan dokumentasi hadist         …………………
C.     Penelitian sanad dan matan hadist    ………………………………….
D.    Periwayatan hadist dengan lafal dan makna  .…………………………

BAB III

PENUTUP                  ………………………………………………………

Kesimpulan                  ………………………………………………………

Daftar Pustaka                        ………………………………………………………




BAB I
PENDAHULUAN

A.          LATAR BELAKANG
Dalam pembahasan makalah ini, marilah kita mengenal lebih jauh mengenai urgensi sanad dan matan hadist. Sanad dan matan merupakan dua unsure pokok yang harus ada pada setiap hadist, antara keduanya memiliki kaitan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Suatu berita tentang Rasul saw. (matan) tanpa ditemukan rangkaian dan susunan sanad-nya, yang demikian itu tidak bisa disebut hadist. Sebaliknya, suatu susunan sanad, meskipun bersambung sampai kepada Rasul, jika tanpa berita yang dibawanya, juga tidak bisa disebut hadist.
Pembicaraan kedua istilah di atas, sebagai dua unsur pokok hadist, muncul dan diperlukan setelah Rasulullah saw. wafat. Hal ini karena berkaitan dengan perlunya penelitian terhadap  otentisitas isi berita itu sendiri, apakah benar sumbernya dari Rasulullah atau bukan. Upaya ini akan menentukan bagaimana kualitas hadist-hadist tersebut, yang akan dijadikan dasar dalam penetapan syari’at Islam.

B.     RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian sanad dan matan hadist ?
2.      Bagaimana hubungan Sanad dengan dokumentasi hadist ?
3.      Bagaimana penelitian sanad dan matan hadist ?
4.      Bagaimana periwayatan hadist dengan lafal dan makna ?

C.     TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pengertian sanad dan matan hadist.
2.      Untuk mengetahui hubungan Sanad dengan dokumentasi hadist.
3.      Untuk mengetahui penelitian sanad dan matan hadist.
4.      Untuk mengetahui periwayatan hadist dengan lafal dan makna.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN SANAD DAN MATAN  HADIST

1.      Sanad Hadist
Sanad secara bahasa berarti al-mu’tamad (المعتمد ), yaitu yang diperpegangi (yang kuat) / yang bisa dijadikan pegangan.
            Secara terminologis, definisi sanad ialah : Sanad adalah jalannya matan, yaitu silsilah para perawi yang memindahkan (meriwayatkan) matan dari sumbernya yang pertama.
Dengan pengertian di atas, maka sebutan sanad hanya berlaku pada rangkaian orang-orang, bukan dilihat dari sudut pribadi secara perseorangan. Sedangkan sebutan untuk pribadi yang menyampaikan hadist, disebut dengan rawi.

2.      Isnad, Musnad dan Musnid
Selain istilah sanad, terdapat istilah lainnya, seperti al-isnad, al-musnad dan al-musnid. Istilah al-isnad berarti menyandarkan,mengasalkan (mengembalikan ke asal) dan mengangkat. Yang dimaksud di sini adalah : Menyandarkan hadist kepada orang yang mengatakannya (Hasbi Ash-Shiddiqi, 1985,43).
Menurut Ath-Thibi, sebagaimana dikutip al-Qasimi, kata al-isnad dengan as-sanad mempunyai arti yang hamper sama. Berbeda dengan al-isnad, istilah al-musnad mempunyai beberapa arti: pertama, berarti hadist yang diriwayatkan dan disandarkan atau disanadkan kepada seseorang yang membawanya. Kedua, berarti nama suatu kitab yang menghimpun hadist-hadist dengan system penyusunannya berdasarkan nama-nama para sahabat perawi hadist, berarti nama bagi hadist yang memenuhi kriteria marfu’ (disandarkan kepada Nabi.saw) dan muttashil (sanad-nya bersambung sampai kepada akhirnya).

3.      Matan Hadist
Kata matan atau al-matan, menurut bahasa berarti ma shaluba wa irfata’a min al-ardhi (tanah yang meninggi). Secara terminologis, istilah matan memiliki beberapa definisi, yang pada dasarnya maknanya sama, yaitu materi atau lafal hadist itu sendiri. Dari definisi ini memberikan pengertian bahwa apa yang tertulis setelah (penulisan) silsilah sanad adalah matan hadist.

4.      Rawi Hadist
Kata ra’wi atau ar-rawi, berarti orang-orang yang meriwayatkan atau memberikan hadist. Orang yang menerima hadist kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin, disebut dengan rawi. Dengan demikian para perawi dapat disebut mudawwin (orang yang membukukan dan menghimpun hadist). Sedangkan orang lain, tanpa membukukannya disebut sanad hadist.
عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ )
“Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan (hadist) kepada kami,katanya,”Abu Muawiyah telah menceritakan (hadist) kepada kami, yang diterimanya dari Al-A’masy, dari Umar bin Umair dari Abd Ar-Rahman bin Yazid, dari Abdullah bin Mas’ud, katanya, “Rasul saw. telah bersabda kepada kami, wahaisekalian pemuda ! barangsiapa yang sudah mampu untuk melakukan pernikahan, maka menikahlah, karena dengan menikah itu lebih dapat menutup mata dan (lebih dapat) menjaga kehormatan. Akan tetapi, barangsiapa yang belum mampu melakukannya, baginya hendaklah berpuasa. Karena dengan puasa itu dapat menahan hasrat seksual” (H.R. al-Bukhari dan Muslim) (Muslim t.t.:638).

B.     SANAD DAN HUBUNGANNYA DENGAN DOKUMENTASI HADIST

1.       Dokumentasi Sanad Hadits
            Salah satu keistimewaan hadist dari dokumen sejarah lainnya di dunia adalah tertulisnya data orang-orang yang menerima dan meriwayatkan hadist tersebut, yang disebut sanad. Dengan ketelitian, semangat kerja yang tinggi dan professional, khusunya para penulis kitab hadits, sanad hadits satu persatu terdokumentasikan secara urut, hal ini misalnya dapat dilihat pada kitab Al-Jami’ash-Shahih karya al-Bukhari dan Muslim.

2.      Peranan Sanad Dalam Dokumentasi Hadits
            Peranan sanad pada dasarnya terbagi pada dua, yaitu untuk pengamanan atau
pemeliharaan matan hadits, dan untuk penelitian kualitas hadits satu persatu secara terperinci. Untuk pembagian kedua akan tersendiri pada bagian di muka.
            Sanad hadits dilihat dari rangkaian atau silsilahnya terbagi kepada beberapa thaqabah atau tingkatan yang menunjukkan urutan generasi demi generasi yang saling bertautan.
Hadits-hadits Rasul yang berada sepenuhnya di tangan mereka diterima atau disampaikan melalui dua cara, yaitu dengan lisan dan tulisan. Cara yang pertama merupakan cara utama. Hal ini karena dalam tradisi sastra pra-Islam, masyarakat arab telah terbiasa dengan budaya hafal. Cara yang kedua (cara tulisan), pada awal Islam kurang berkembang. Namun demikian, kegiatan tulis menulis berjalan dengan baik. Tulisan-tulisan mereka ada yang berbentuk surat yang dikirim kepada orang lain, adapula yang berupa catatan pribadi semata.
           
C.    PENELITIAN SANAD DAN MATAN HADITS

1.      Perlunya Penelitian Sanad Dan Matan Hadits
            Penelitian terhadap sanad dan matan hadits (sebagai dua unsur pokok hadits) bukan karena hadits itu diragukan otentisitasnya. Hadits secara kuli merupakan sumber ajaran setelah Al-Qur’an yang keseluruhannya. Penelitian ini dilakukan untuk menyaring unsur-unsur luar yang masuk ke dalam hadits, yang sesuai dengan penelitian terhadap kedua unsur hadits di atas, agar hadits-hadits Rasulullah saw. dapat terhindar dari segala yang mengotorinya.
          Ada dua faktor utama perlunya dilakukan penelitian ini, yaitu karena beredarnya hadits palsu (hadits maudhu) dan hadits tidak ditulis secara resmi pada masa Rasul saw. (berbeda dengan Alquran), sehingga penulisan dilakukan hanya bersifat individu.
         
2.      Penelitian Para Ulama Tentang Sanad Dan Matan Hadits
          Setelah wafat Rasulullah saw. pada khalifah Abu Bakar dan Umar, sangat berhati-hati terhadap periwayatan hadits, karena khawatir terjadinya kesalahan dalam menerima atau meriwayatkan hadits. Sehingga jika ada suatu hadits yang baru, khalifah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib selalu meminta sumpah kepada para pembawa hadits yang disampaikan.
          Pada kurun tabiin, penelitian dilakukan dengan mengacu kepada beberapa ketentuan bahwa hadits dapat diterima jika :
1.      Diriwayatkan oleh orang yang tsiqah ;
2.      Baik akhlaknya, dan
3.      Dikenal memiliki pengetahuan dalam bidang hadits.
      Sebaliknya, hadits tidak bisa diterima jika :
1.      Perawinya tidak tsiqah ;
2.      Suka berdusta dan mengikuti hawa nafsu ;
3.      Tidak memahami hadits yang diriwayatkannya, dan
4.      Orang yang ditolak kesaksiannya.

D.    PERIWAYATAN HADITS DENGAN LAFAL DAN MAKNA
  Ada dua jalan para sahabat dalam meriwayatkan hadits dari Rasul saw. dengan Jalan periwayatan lafzhi (redaksinya sama persis seperti yang diwurudkan Rasul saw.) dengan jalan meriwayatkan maknawi (maknanya saja).


1.           Periwayatan Lafzhi
     Seperti telah dikatakan, periwayatan lafzhi adalah periwayatan hadits yang redaksi atau matan-nya persis sama seperti yang diwurudkan Rasul saw. ini hanya bisa dilakukan apabila mereka hafal benar apa yang disabdakan Rasul saw.
Dalam hal ini, Umar bin Khattab pernah berkata : “Barang siapa yang mendengar hadits dari Rasul saw. kemudaian ia meriwayatkannya sesuai dengan yang ia dengar, orang itu selamat.”

2.          Periwatan ma’nawi
Periwayatan ma’nawi (periwayatan yang hanya maknanya saja), artinya ialah periwayatan hadits yang redaksi matan-nya tidak persis sama dengan yang didengarnya dari Rasul saw. tetapi isi atau maknanya sesuai dengan yang di maksudkan oleh Rasul saw. tanpa ada perubahan sedikitpun.
Periwayatan dalam bentuk ini, menurut sebagian sahabat dapat dibenarkan jika dalam keadaan darurat karena tidak hafal persis seperti yang diwurudkan Rasul saw. Periwayatan hadits dengan ma’nawi akan mengakibatkan munculnya hadits-hadits yang redaksinya antara satu hadits denga  hadits lain berbeda-beda, meskipun maknanya tetap sama.



BAB III
PENUTUP

1.      KESIMPULAN
         Sanad dan matan merupakan dua unsur pokok hadis yang harus ada pada setiap hadis. Sanad,matan,dan rawi memiliki kaitan sama dalam ke sahihan satu hadis. Kedudukan sanad dalam hadis sangat penting, karena hadis yang diperoleh / diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan sanad suatu periwayatan hadis dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadis yang sahih atau tidak, untuk diamalkan. Sanad merupakan jalan yang mulia untuk menetapkan hukum-hukum Islam.

2.      SARAN
         Dari uraian diatas maka penulis menyadari bahwa banyak terdapat kesalahan dan kekurangan, untuk itu pemakalah mohon kritikan dan saran yang sifatnya konstruktif demi kesempurnaan makalah ini.



















DAFTAR PUSTAKA

Sahrani, Sohari, Ulumul Hadits, Ghalia Indonesia, Bogor, 2010.
Solihudien, Yusep, Rekonstruksi Paradigma Pemahaman Hadits, STAI Press.
Ashidqi, Hasby, Pengantar Ilmu Hadits, Bulan Bintang, Jakarta,1991