Minggu, 05 Februari 2017

RESUME BUKU BADRI YATIM




I.       PERADABAN ISLAM PADA MASA KLASIK
A.    KHILAFAH RASYIDAH
Setelah nabi Muhammad SAW wafat, kaum muslimin bingung untuk menunjuk siapa yang akan menjadi pengganti Nabi karena beliau tidak memberikan wasiat perihal itu. Akhirnya, sejumlah tokoh muslim bermusyawarah untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin mereka. Akhirnya Abu Bakkar terpilih sebagai pengganti Rasul setelah mengalami perseteruan antara kaum Muhajirin dan Anshar.
Sebagai pemimpin setelah Rasul, Abu Bakar disebut Khilafah Rasulillah (Pengganti Rasul) yang dalam perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja. Abu Bakar menjadi khalifah hanya dalam 2 tahun. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang timbul dari suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi.
Setelah kepemiminan Abu Bakar selesai, kemudian yang menjadi pemimpin adalah Umar, yang sebelumnya telah dipilih oleh khalifah Abu Bakar. Pada masa kepemimpinan Umar, gelombang ekspansi dilakukan. Dengan demikian pada masa Umar ini kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arab, Palestina, Syiria, sebagian besar wilayah Persia dan Mesir. Karena perluasan wilayah berlangsunng sanat cepat, Umar mengatur administrasi Negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang di Persia. Umar memerintah selama 10 tahun. Ia meninggal karena dibunuh oleh budak Persia. Sebelum meninggal ia menunjuk 6 sahabat dan memilih siapa yang akan menjadi penggantinya kemudian. Setelah Umar wafat tim tersebut bermusyawarah read more

Kamis, 02 Februari 2017

PENGARUH INFLASI DAN KURS RUPIAH TERHADAP IHSG DI BURSA EFEK INDONESIA (TUGAS EKONOMETRIKA)



Pageee....

Huh, bikin tugas ini banyak suka dukanya lho.
Haha Ekonometri giru loo, yakali ngga ada suka dukanya. pinter ajegile dongs

Gw sih bikin dari beberapa referensi. ada yang dari scholar.google.co.id ada yang dari buku tapi kebanyakan dari googlescholar sih . Haha  😎
cek cek ini punya guweee...
 Eh sory kalo ada gambar yang ngga jelas, dapet nge-snipping tool soalnya






Pengaruh Inflasi Dan Kurs Rupiah Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
(studi kasus pada IHSG di BEI selama periode 2001-2015)


PENELITIAN
diajukan untuk Memenuhi Salah Satu
Tugas Kelompok Mata Kuliah Ekonometrika
Dosen Pengampu Havid Risyanto , S.Si., M.Sc.







Disusun oleh
Eva Ainun Najiyyah (141401593)
Syamsiah (141401622)

ES-C/V


PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
JURUSAN EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
IAIN SULTAN MAULANA HASANUDDIN
BANTEN
2016




PENGARUH INFLASI DAN KURS RUPIAH TERHADAP
IHSG DI BURSA EFEK INDONESIA
(PERIODE 2001-2015)
A.      Pembentukan Masalah
1.         Latar Belakang
          Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal atau investor.[1]
          Kegiatan investasi adalah kegiatan penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang. Modal baik langsung maupun tidak langsung dengan harapan pada waktunya nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut.[2]
          Salah satu kegiatan investasi yang dapat dipilih oleh investor adalah berinvestasi di pasar modal. Di Indonesia, investor yang berminat untuk berinvestasi di pasar modal dapat berinvestasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Satu indikator pergerakan harga saham tersebut adalah indeks harga saham. [3]
          Indeks Harga Saham Gabungan  seluruh saham adalah suatu nilai yang digunakan untuk mengukur kinerja gabungan seluruh saham yang tercatat di suatu bursa efek. [4]Maksud dari gabungan seluruh saham ini adalah kinerja saham yang dimasukan dalam perhitungan seluruh saham yang tercatat di bursa tersebut. Oleh karena itu melalui pergerakan indeks harga saham gabungan, seorang investor dapat melihat kondisi pasar apakah sedang bergairah atau lesu. Perbedaan kondisi pasar ini tentu memerlukan strategi yang berbeda dari investor dalam berinvestasi. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi Indeks Saham, antara lain perubahan tingkat suku bunga bank sentral, keadaan ekonomi global, tingkat harga energi dunia, kestabilan politik suatu negara, dll.
          Beberapa penelitian terdahulu tentang analisis pengaruh antara tingkat suku bunga dan Kurs Rupiah terhadap IHSG menunjukan hasil yang berbeda, sehingga perlu dilakukakn penelitian lebih lanjut mengenai hal ini. Hasil Penelitian  yang dilakukan Aditya Setiawan (2012) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap IHSG. Sedangkan Yuni Appa (2014) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap IHSG. Sedangkan menurut penelitian Witjaksono (2010) untuk variabel kurs rupiah berpengaruh negatif terhadap IHSG[5]. Selanjutnya menurut M. Taufiq (2016) variabel Kurs Rupiah berpengaruh positif terhadap IHSG, sedangkan menurut Zuhdi (2012) bahwa variabel kurs rupiah berpengaruh negative terhadap IHSG. [6]
          Hal diatas menunjukkan bahwa hasil penelitian tentang pengaruh tingkat suku bunga dan kurs rupiah cenderung tidak konsisten atau berbeda antara peneliti yang satu dengan peneliti yang lain. Dengan adanya ketidakkonsistenan hasil penelitian ini, serta pengaruh ekonomi dunia yang memberikan dampak bagi perekonomian Indonesia, maka penelitian ini mengambil judul ”Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI dan Kurs Rupiah terhadap IHSG”.
2.         Rumusan Masalah
Peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini antara lain:
1.    Apakah variabel Inflasi berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI?
2.    Apakah variabel Kurs Rupiah berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI?
3.    Apakah variabel Inflasi dan Kurs Rupiah berpengaruh secara simultan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI?
3.         Tujuan Penelitian
Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah :
1.    Untuk memperoleh bukti empiris tentang pengaruh Kurs Rupiah           terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di       BEI.
2.    Untuk memperoleh bukti empiris tentang pengaruh Inflasi terhadap      Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI.
3.    Untuk memperoleh bukti empiris tentang pengaruh secara simultan       Inflasi dan Kurs Rupiah terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI.
B.       Pembentukan Model Ekonometrika
1.    Model Regresi
Model persamaan linier yang menyatakan hubungan variabel bebas dan terikat adalah sebagai berikut:
     Y= ß1^ + ß2^X2i  ß3^X3i +  εi
     Keterangan :
     Y   = IHSG/ Variabel Dependent
     X2 = Inflasi/Variabel Independent dari IHSG
     X3 = Kurs Rupiah/ Variabel Independent dari IHSG
     ß1^  = Intersep/Konstanta
     ß2^ = Koefisien garis regresi dari Variabel X2i
     ß3^= Koefisien garis regresi dari Variabel X3i
     ε    = Galat
     i    = Tahun yang diamati (1,….,15)
2.      Hipotesis
            Hipotesis Penelitian                                                              
                 Berdasarkan latar belakang penelitian maka hipotesis yang   diajukan          dapat dirumuskan sebagai berikut:
1)      Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Inflasi terhadap
        IHSG
H1 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara Inflasi terhadap IHSG
2)      Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Kurs Rupiah         
        terhadap IHSG
H2 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara Kurs Rupiah
        terhadap IHSG
3)      Ho : Tidak terdapat pengaruh antara Inflasi dan Kurs Rupiah                               terhadap IHSG
H3 : Terdapat pengaruh secara simultan antara Inflasi dan Kurs                            Rupiah  terhadap IHSG
            Hipotesisi statistik
1)   H0 : ß2^ = 0
H1 : ß2^ ≠ 0
2)   H0 : ß3^ = 0
H2 : ß3^ ≠ 0
3)   H0 : ß2^ = ß3^ = 0
H3 : ß2^ = ß3^ ≠ 0

C.      Data IHSG, Inflasi, dan Kurs Rupiah Periode (2001-2015)
     Berdasarkan tujuan jenis penelitian termasuk penelitian empiris, karena diharapkan dapat menjawab hipotesis serta mencari korelasi antara variabel terikat dan variabel bebas. Populasi penelitian ini adalah Indeks Harga Saham Gabungan dan sampelnya adalah data IHSG sepanjang tahun 2001 sampai dengan tahun 2015. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling, yaitu dengan periode sampling data dari bulan Januari 2001 sampai dengan Desember 2015.
Tabel 1.1
TAHUN
IHSG
INFLASI
KURS
2001
392
12.55
10400
2002
424
10.03
8940
2003
679
5.06
8465
2004
1000
6.4
9290
2005
1162
17.11
9830
2006
1813
6.6
9020
2007
2745
6.59
9419
2008
1355
11.06
10950
2009
2534
2.78
9400
2010
3730
6.96
8991
2011
3821
3.79
9068
2012
4316
4.3
9670
2013
5000
8.38
12189
2014
5226
8.36
12440
2015
4869
3.35
13795
   Source :www. Idx.co.id & www. Bi.go.id,
D.      Uji Asumsi Klasik
a)   Uji Normalitas
            Dengan menggunakan metode uji Kolmogorov-Smirnov, didapat nilai asymp. sig (2-tailed) atau nilai signifikan uji tersebut sebesar 0,200 lebih besar dari derajat kesalahan yang dikehendaki yaitu, α = 0,05. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan data tidak normal ditolak. (Tabel 1.2) Selain itu untuk melihat apakah data berdistribusi normal bisa terlihata pada grafik histogram. Garis kurva terlihat berpola center sehingga data dikatakan normal. (Tabel 1.3)

Tabel 1.2
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual
N
15
Normal Parametersa,b
Mean
.0000000
Std. Deviation
1151.00355806
Most Extreme Differences
Absolute
.172
Positive
.164
Negative
-.172
Test Statistic
.172
Asymp. Sig. (2-tailed)
.200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.






















b)   Uji Autokorelasi
Berikut disajikan hasil perhitungan uji autokorelasi dengan menggunakan SPSS versi 23
Tabel 1.4
Model Summaryb
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1
.758a
.575
.504
1243.22593
1.113
a. Predictors: (Constant), KURS, INFLASI


                                    

        Dari hasil SPSS di atas terlihat bahwa nilai Durbin Watson adalah sebesar 1.113 Nilai Durbin-Watson berdasarkan tabel dengan derajat kepercayaan sebesar 5% adalah dl sebesar 1.0097 dan du sebesar 1.3404 sehingga nilai 4-du adalah 2.6595 dan 4-dl 2.9903 Nilai Durbin Watson pada penelitian ini adalah 1.113 sehingga berada terletak diantara dl dan dU, maka model regresi ini tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti dan layak digunakan (Tabel 1.5).


c)    Uji Heteroskedastis
          Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa titik-titik yang ada tidak membentuk suatu pola tertentu atau titik-titik yang ada menyebar diatas dan dibawah angka nol sehingga bisa disimpulkan bahwa dalam penelitian ini model regresi yang dipakai tidak mengalami heteroskedastisitas (Tabel 1.7).
        Sedangkan Berdasarkan hasil output  Correlation pada table Spearmans rho diatas, Tidak terjadi heteroskedastisitas karena nilai sig (2-tailed) untuk masing-masing variabel bebas terhadap residualnya lebih besar dari nilai kritisnya (0.01) ( Tabel 1.6 ).
                                             
Tabel 1.6
Correlations

INFLASI
KURS
ABS_RES1
Spearman's rho
INFLASI
Correlation Coefficient
1.000
.182
-.061
Sig. (2-tailed)
.
.516
.830
N
15
15
15
KURS
Correlation Coefficient
.182
1.000
.014
Sig. (2-tailed)
.516
.
.960
N
15
15
15
ABS_RES1
Correlation Coefficient
-.061
.014
1.000
Sig. (2-tailed)
.830
.960
.
N
15
15
15













d)   Multikolinearitas
           Hasil pengolahan data menggunakan SPSS 23.0 menunjukkan bahwa tidak ada nilai tolerance Inflasi dan Kurs Rupiah yang memiliki nilai kurang dari 0,1 yang berarti tidak terdapat korelasi antar variabel bebas. Sementara itu hasil perhitungan VIP juga menunjukkan hal yang sama tidak ada variabel bebas yang memiliki nilai VIP lebih dari 10. Ini menunjukkan bahwa model regresi ini layak untuk digunakan karena tidak terdapat variabel yang mengalami multikolinearitas. (Tabel 1.8)
           Sedangkan Berdasarkan hasil output  Coefficients Correlationa  diatas menunjukkan bahwa  nilai korelasi variabel bebas adalah :  -0,037. Dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas karena korelasi antar Variabel bebas/independent dibawah 0.90. atau 90% (Tabel 1.9)

                                    Tabel 1.8
Coefficientsa
Model
Collinearity Statistics

Tolerance
VIF

1
(Constant)



INFLASI
.999
1.001

KURS
.999
1.001

a. Dependent Variable: IHSG
                                                            Tabel 1.9
Coefficient Correlationsa
Model
KURS
INFLASI
1
Correlations
KURS
1.000
-.037
INFLASI
-.037
1.000
Covariances
KURS
.046
-.673
INFLASI
-.673
7335.139
a. Dependent Variable: IHSG
           







E.       Parameter Regresi
     Setelah dinyatakan bebas dari masalah normalitas, multikolinieritas, lulus uji heterokedastisitas dan tidak ada masalah autokorelasi, maka dari hasil hasil uji t, hasil uji F, serta uji regresi linier berganda dengan menggunakan program computer SPSS 23.0 diperoleh hasil estimasi persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
IHSG = -2805.89 - 215.17Inf + 0.695Kurs + ε
     Bedasarkan persamaan regresi linier berganda yang dihasilkan indeks IHSG akan bernilai mendekati angka konstanta = -2805.89 jika semua variabel inflasi dan nilai tukar rupiah nilainya mendekati angka nol.
     Nilai variabel inflasi berpengaruh negatif terhadap variabel IHSG sebesar -215.17. Setiap kenaikan inflasi sebesar 1% dengan variabel lain dalam kondisi tetap, maka variabel IHSG akan mengalami penurunan sebesar  215.17 satuan. Hal ini bisa terjadi karena berdasarkan data statistik pada periode tahun 2001-2015 rata-rata inflasi adalah sebesar 7.55% sehingga bisa dikategorikan sebagai tingkat inflasi menengah.
     Variabel nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika (kurs) berpengaruh positif terhadap IHSG dengan koefisien sebesar 0.695, setiap kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika (kurs) sebesar Rp1,-/USD akan meningkatkan nilai indeks saham sebesar 0.695 satuan. Hal ini bisa terjadi karena berdasarkan data statistik pada periode tahun 2001-2015 rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika adalah sebesar 10124.47.  Nilai t hitung yaitu sebesar 8,517 > t tabel = 2,000 dan angka signifikansi = 0,000 < α = 0,05 sehingga signifikan ( Ho ditolak dan Ha diterima). Dengan demikian hipoesis H2 bahwa kurs berpengaruh terhadap IHSG terbukti. Nilai ε pada persamaan linier menunjukkan selisih antara indeks saham JII hasil prediksi persamaan linier dengan indeks saham JII yang real.
F.       Uji Hipotesis
a)    Koefisien Determinasi
            Dari tabel hasil output SPSS diperoleh  bahwa nilai adjusted R square adalah sebesar 0.575 menunjukkan bahwa variasi variabel independen mampu menjelaskan 57.5% variasi variabel dependen, sedangkan sisanya yaitu sebesar 42.5% dijelaskan oleh variabel lain seperti Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, PDB, BI rate. Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,758 menunjukkan bahwa kuat hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen sebesar 75.8% ( Tabel 2.1).
                                                Tabel 2.1
Model Summaryb
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1
.758a
.575
.504
1243.22593
a. Predictors: (Constant), KURS, INFLASI
b. Dependent Variable: IHSG
             
b)   Uji F
Tabel 2.2
ANOVAa
Model
Sum of Squares
Df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
25092114.931
2
12546057.465
8.117
.006b
Residual
18547328.669
12
1545610.722


Total
43639443.600
14



a. Dependent Variable: IHSG
b. Predictors: (Constant), KURS, INFLASI
                        Dari hasil perhitungan di atas dapat dilihat bahwa nilai signifikansi adalah sebesar 0,006 dan nilai F hitung sebesar 8.117. Dasar pengambilan keputusan adalah tingkat signifikansinya sebesar 5% atau 0,05. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka menunjukkan adanya pengaruh Inflasi dan Kurs Rupiah secara simultan terhadap IHSG. Dasar pengambilan keputusan yang lain adalah nilai F hitung harus lebih besar dari F tabel untuk menentukan adanya pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependen. Dari perhitungan di atas dapat dilihat bahwa nilai F hitung yang sebesar 8.117 yang lebih besar dari nilai F tabel yang 4,67 (Tabel 2.3) maka dapat disimpulkan bahwa variabel Inflasi, Kurs Rupiah berpengaruh secara simultan terhadap IHSG dengan signifikansi sebesar 0.6% ( Tabel 2.2).
                                              


c)    Uji t
               

1.      Pengujian terhadap variabel Inflasi menghasilkan t hitung > t tabel (2.512 > 2.1604) sehingga dapat dikatakan bahwa nilai Inflasi terhadap dollar AS secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap indeks Harga Saham.
2.      Pengujian terhadap variabel nilai kurs dollar AS menghasilkan t hitung > t tabel (3.240 > 2,1604) sehingga dapat dikatakan bahwa nilai kurs rupiah terhadap dollar AS secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap indeks Harga Saham.
.
G.      Kesimpulan
Hasil hipotesis penelitan pengaruh Inflasi dan  Kurs Rupiah terhadap IHSG yaitu :
1.    Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa Inflasi berpengaruh negatif. Hasil ini menunjukkan bahwa penurunan Inflasi akan mendorong kenaikan IHSG. Selama periode penelitian, situasi perekonomian Indonesia cukup baik. Hal ini dapat dilihat bahwa dari tahun 2001-2015, perekonomian Indonesia rata-rata tumbuh sebesar 7% tiap tahunnya. (www.bps.go.id).
2.    Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh hasil kurs rupiah berpengaruh positif. Hasil ini menunjukkan bahwa ketika nilai kurs rupiah naik maka IHSG ikut naik. Bagi investor sendiri, pelemahan nilai kurs rupiah menunjukkan situasi fundamental perekonomian Indonesia dalam kondisi suram. Ketika prospek perekonomian suram, maka investor cenderung melepaskan saham-saham yang dimilikinya untuk menghindari resiko. Aksi jual saham ini tentunya akan mendorong pelemahan IHSG.

H.      Saran
Dari hasil penelitian ini, berikut adalah hal yang dapat diajukan sebagai saran:
·      Investor sebaiknya memperhatikan factor tingkat inflasi dan nilai kurs dollar terhadap rupiah sebelum mengambil keputusan berinvestasi. Informasi-informasi tersebut telah terbukti berpengaruh terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan di BEI secara simultan dan sebagian dari factor-faktor tersebut juga dapat mempengaruhi IHSG secara parsial, sehingga dapat digunakan sebagai bagian dari pertimbangan untuk memprediksi IHSG dan kemudian dapat mengambil keputusan dalam berinvestasi.
·      Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Inflasi berpengaruh lebih besar dari pada Kurs Rupiah terhadap pergerakan IHSG, sehingga variabel ini dapat dijadikan pertimbangan utama pada saat pengambilan keputusan dalam berinvestasi di pasar modal syariah khususnya investasi pada saham syariah kelompok Jakarta Islamic Index.


DAFTAR PUSTAKA

Ang, Robert, 1997, “ Buku Pintar : Pasar Modal Indonesia “, First Edition Mediasoft Indonesia
Kewal, Suramaya Suci. (2012). Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs, dan Pertumbuhan PDB Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Jurnal Economia, Volume 8, Nomor 1 (April):53-64.
Mohammad Samsul, 2008, Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Erlangga, Jakarta
Suad Husnan, 2004, “Dasar Manajemen Keuangan”, Edisi ke empat, UPP STKIM YKPN. Yogyakarta.
Sunariyah, 2006, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Kelima, UPP STIM,YKPN, Yogyakarta.
Taufiq, Muhammad & Batista Sufa Kefi, (2014) Pengaruh Inflasi, Bi Rate Dan Kurs Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan.
Witjaksono, Ardian Agung (2010). Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, Kurs Rupiah, Indeks Nikkei 225, dan Indeks Dow Jones terhadap IHSG. Tesis. Semarang : Pascasarjana –Undip




[1] Suad Husnan, 2004, “Dasar Manajemen Keuangan”, Edisi ke empat, UPP STKIM YKPN. Yogyakarta.
[2] Mohammad Samsul, 2008, Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Erlangga, Jakarta
[3] Ang, Robert, 1997, “ Buku Pintar : Pasar Modal Indonesia “, First Edition Mediasoft Indonesia
[4] Sunariyah, 2006, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Kelima, UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
[5] Witjaksono, Ardian Agung (2010). Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, Kurs Rupiah, Indeks Nikkei 225, dan Indeks Dow Jones terhadap IHSG. Tesis. Semarang : Pascasarjana –Undip
[6]Zuhdi. (2012). Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs, dan Pertumbuhan PDB Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Jurnal Economia, Volume 8, Nomor 1 (April):53-64.