Huh, bikin tugas ini banyak suka dukanya lho.
Haha Ekonometri giru loo, yakali ngga ada suka dukanya. pinter ajegile dongs
Gw sih bikin dari beberapa referensi. ada yang dari scholar.google.co.id ada yang dari buku tapi kebanyakan dari googlescholar sih . Haha 😎
cek cek ini punya guweee...
Eh sory kalo ada gambar yang ngga jelas, dapet nge-snipping tool soalnya
Pengaruh
Inflasi Dan Kurs Rupiah Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
(studi
kasus pada IHSG di BEI selama periode 2001-2015)
PENELITIAN
diajukan untuk Memenuhi Salah Satu
Tugas Kelompok Mata Kuliah Ekonometrika
Dosen Pengampu
Havid Risyanto , S.Si., M.Sc.
Disusun
oleh
Eva
Ainun Najiyyah (141401593)
Syamsiah
(141401622)
ES-C/V
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
JURUSAN EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
IAIN
SULTAN MAULANA HASANUDDIN
BANTEN
2016
PENGARUH INFLASI DAN KURS RUPIAH TERHADAP
IHSG DI BURSA EFEK INDONESIA
(PERIODE 2001-2015)
A.
Pembentukan Masalah
1.
Latar Belakang
Pasar Modal memiliki peran penting
bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu
pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan
untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal atau investor.[1]
Kegiatan
investasi adalah kegiatan penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang
dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan
keuntungan di masa-masa yang akan datang. Modal baik langsung maupun tidak
langsung dengan harapan pada waktunya nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah
keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut.[2]
Salah
satu kegiatan investasi yang dapat dipilih oleh investor adalah berinvestasi di
pasar modal. Di Indonesia, investor yang berminat untuk berinvestasi di pasar
modal dapat berinvestasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Satu indikator
pergerakan harga saham tersebut adalah indeks harga saham. [3]
Indeks Harga Saham Gabungan seluruh saham adalah suatu nilai yang
digunakan untuk mengukur kinerja gabungan seluruh saham yang tercatat di suatu
bursa efek. [4]Maksud
dari gabungan seluruh saham ini adalah kinerja saham yang dimasukan dalam
perhitungan seluruh saham yang tercatat di bursa tersebut. Oleh karena itu
melalui pergerakan indeks harga saham gabungan, seorang investor dapat melihat
kondisi pasar apakah sedang bergairah atau lesu. Perbedaan kondisi pasar ini
tentu memerlukan strategi yang berbeda dari investor dalam berinvestasi. Banyak
faktor yang dapat mempengaruhi Indeks Saham, antara lain perubahan tingkat suku
bunga bank sentral, keadaan ekonomi global, tingkat harga energi dunia,
kestabilan politik suatu negara, dll.
Beberapa penelitian terdahulu tentang
analisis pengaruh antara tingkat suku bunga dan Kurs Rupiah terhadap IHSG
menunjukan hasil yang berbeda, sehingga perlu dilakukakn penelitian lebih
lanjut mengenai hal ini. Hasil Penelitian
yang dilakukan Aditya Setiawan (2012) dalam penelitiannya menunjukkan
bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap IHSG. Sedangkan Yuni
Appa (2014) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa
inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap IHSG. Sedangkan menurut
penelitian Witjaksono (2010) untuk variabel kurs
rupiah berpengaruh negatif terhadap IHSG[5]. Selanjutnya
menurut M. Taufiq (2016) variabel Kurs Rupiah berpengaruh
positif terhadap IHSG, sedangkan menurut Zuhdi (2012) bahwa variabel kurs
rupiah berpengaruh negative terhadap IHSG. [6]
Hal
diatas menunjukkan bahwa hasil penelitian tentang pengaruh tingkat suku bunga
dan kurs rupiah cenderung tidak konsisten atau berbeda antara peneliti yang
satu dengan peneliti yang lain. Dengan adanya ketidakkonsistenan hasil
penelitian ini, serta pengaruh ekonomi dunia yang memberikan dampak bagi
perekonomian Indonesia, maka penelitian ini mengambil judul ”Analisis
Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI dan Kurs Rupiah terhadap IHSG”.
2.
Rumusan Masalah
Peneliti
merumuskan masalah dalam penelitian ini antara lain:
1. Apakah
variabel Inflasi berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) di BEI?
2. Apakah
variabel Kurs Rupiah berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) di BEI?
3. Apakah
variabel Inflasi dan Kurs Rupiah berpengaruh secara simultan terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI?
3.
Tujuan Penelitian
Tujuan
dilaksanakannya penelitian ini adalah :
1. Untuk
memperoleh bukti empiris tentang pengaruh Kurs Rupiah terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI.
2. Untuk
memperoleh bukti empiris tentang pengaruh Inflasi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI.
3. Untuk
memperoleh bukti empiris tentang pengaruh secara simultan Inflasi dan Kurs Rupiah terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI.
B.
Pembentukan
Model Ekonometrika
1. Model
Regresi
Model
persamaan linier yang menyatakan hubungan variabel bebas dan terikat adalah
sebagai berikut:
Y= ß1^ + ß2^X2i ß3^X3i + εi
Keterangan :
Y =
IHSG/ Variabel Dependent
X2 = Inflasi/Variabel
Independent dari IHSG
X3 = Kurs Rupiah/ Variabel
Independent dari IHSG
ß1^
= Intersep/Konstanta
ß2^ = Koefisien garis regresi
dari Variabel X2i
ß3^= Koefisien garis regresi
dari Variabel X3i
ε
= Galat
i
= Tahun yang
diamati (1,….,15)
2. Hipotesis
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan
latar belakang penelitian maka hipotesis yang diajukan
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) Ho
: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Inflasi terhadap
IHSG
H1
: Terdapat pengaruh yang signifikan antara Inflasi terhadap IHSG
2) Ho
: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Kurs Rupiah
terhadap IHSG
H2
: Terdapat pengaruh yang signifikan antara Kurs Rupiah
terhadap IHSG
3) Ho
: Tidak terdapat pengaruh antara Inflasi dan Kurs Rupiah terhadap IHSG
H3
: Terdapat pengaruh secara simultan antara Inflasi dan Kurs Rupiah
terhadap IHSG
Hipotesisi
statistik
1) H0
: ß2^ = 0
H1
: ß2^ ≠ 0
2) H0
: ß3^ = 0
H2
: ß3^ ≠ 0
3) H0
: ß2^ = ß3^ = 0
H3
: ß2^ = ß3^ ≠ 0
C. Data
IHSG, Inflasi, dan Kurs Rupiah Periode (2001-2015)
Berdasarkan tujuan jenis penelitian termasuk penelitian empiris, karena
diharapkan dapat menjawab hipotesis serta mencari korelasi antara variabel
terikat dan variabel bebas. Populasi penelitian ini adalah Indeks Harga Saham
Gabungan dan sampelnya adalah data IHSG sepanjang tahun 2001 sampai dengan
tahun 2015. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling,
yaitu dengan periode sampling data dari bulan Januari 2001 sampai dengan
Desember 2015.
Tabel 1.1
TAHUN
|
IHSG
|
INFLASI
|
KURS
|
2001
|
392
|
12.55
|
10400
|
2002
|
424
|
10.03
|
8940
|
2003
|
679
|
5.06
|
8465
|
2004
|
1000
|
6.4
|
9290
|
2005
|
1162
|
17.11
|
9830
|
2006
|
1813
|
6.6
|
9020
|
2007
|
2745
|
6.59
|
9419
|
2008
|
1355
|
11.06
|
10950
|
2009
|
2534
|
2.78
|
9400
|
2010
|
3730
|
6.96
|
8991
|
2011
|
3821
|
3.79
|
9068
|
2012
|
4316
|
4.3
|
9670
|
2013
|
5000
|
8.38
|
12189
|
2014
|
5226
|
8.36
|
12440
|
2015
|
4869
|
3.35
|
13795
|
Source :www. Idx.co.id & www. Bi.go.id,
D. Uji
Asumsi Klasik
a) Uji
Normalitas
Dengan menggunakan metode uji
Kolmogorov-Smirnov, didapat nilai asymp. sig (2-tailed) atau nilai signifikan
uji tersebut sebesar 0,200 lebih besar dari derajat kesalahan yang dikehendaki
yaitu, α = 0,05. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan data tidak normal
ditolak. (Tabel 1.2) Selain itu untuk melihat apakah data berdistribusi normal
bisa terlihata pada grafik histogram. Garis kurva terlihat berpola center
sehingga data dikatakan normal. (Tabel 1.3)
Tabel 1.2
One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test
|
||
Unstandardized Residual
|
||
N
|
15
|
|
Normal
Parametersa,b
|
Mean
|
.0000000
|
Std.
Deviation
|
1151.00355806
|
|
Most
Extreme Differences
|
Absolute
|
.172
|
Positive
|
.164
|
|
Negative
|
-.172
|
|
Test
Statistic
|
.172
|
|
Asymp.
Sig. (2-tailed)
|
.200c,d
|
|
a. Test
distribution is Normal.
|
||
b.
Calculated from data.
|
||
b)
Uji
Autokorelasi
Berikut
disajikan hasil perhitungan uji autokorelasi dengan menggunakan SPSS versi 23
Tabel
1.4
Model Summaryb
|
|||||
Model
|
R
|
R
Square
|
Adjusted
R Square
|
Std.
Error of the Estimate
|
Durbin-Watson
|
1
|
.758a
|
.575
|
.504
|
1243.22593
|
1.113
|
a.
Predictors: (Constant), KURS, INFLASI
|
|||||
Dari hasil SPSS di atas terlihat bahwa
nilai Durbin Watson adalah sebesar 1.113 Nilai Durbin-Watson berdasarkan tabel
dengan derajat kepercayaan sebesar 5% adalah dl sebesar 1.0097 dan du sebesar
1.3404 sehingga nilai 4-du adalah 2.6595 dan 4-dl 2.9903 Nilai Durbin Watson
pada penelitian ini adalah 1.113 sehingga berada terletak diantara dl dan dU,
maka model regresi ini tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti dan layak
digunakan (Tabel 1.5).
c)
Uji
Heteroskedastis
Berdasarkan
gambar di atas terlihat bahwa titik-titik yang ada tidak membentuk suatu pola
tertentu atau titik-titik yang ada menyebar diatas dan dibawah angka nol
sehingga bisa disimpulkan bahwa dalam penelitian ini model regresi yang dipakai
tidak mengalami heteroskedastisitas (Tabel 1.7).
Sedangkan Berdasarkan hasil output Correlation pada table Spearmans rho
diatas, Tidak terjadi heteroskedastisitas karena nilai sig (2-tailed) untuk
masing-masing variabel bebas terhadap residualnya lebih besar dari nilai
kritisnya (0.01) ( Tabel 1.6 ).
Tabel 1.6
Correlations
|
|||||
INFLASI
|
KURS
|
ABS_RES1
|
|||
Spearman's rho
|
INFLASI
|
Correlation Coefficient
|
1.000
|
.182
|
-.061
|
Sig. (2-tailed)
|
.
|
.516
|
.830
|
||
N
|
15
|
15
|
15
|
||
KURS
|
Correlation Coefficient
|
.182
|
1.000
|
.014
|
|
Sig. (2-tailed)
|
.516
|
.
|
.960
|
||
N
|
15
|
15
|
15
|
||
ABS_RES1
|
Correlation Coefficient
|
-.061
|
.014
|
1.000
|
|
Sig. (2-tailed)
|
.830
|
.960
|
.
|
||
N
|
15
|
15
|
15
|
||
d)
Multikolinearitas
Hasil pengolahan data menggunakan
SPSS 23.0 menunjukkan bahwa tidak ada nilai tolerance Inflasi dan Kurs Rupiah
yang memiliki nilai kurang dari 0,1 yang berarti tidak terdapat korelasi antar
variabel bebas. Sementara itu hasil perhitungan VIP juga menunjukkan hal yang
sama tidak ada variabel bebas yang memiliki nilai VIP lebih dari 10. Ini
menunjukkan bahwa model regresi ini layak untuk digunakan karena tidak terdapat
variabel yang mengalami multikolinearitas. (Tabel 1.8)
Sedangkan Berdasarkan hasil
output Coefficients Correlationa diatas menunjukkan bahwa nilai korelasi variabel bebas adalah : -0,037. Dapat disimpulkan tidak terjadi
multikolinearitas karena korelasi antar Variabel bebas/independent dibawah
0.90. atau 90% (Tabel 1.9)
Tabel 1.8
Coefficientsa
|
||||
Model
|
Collinearity
Statistics
|
|||
Tolerance
|
VIF
|
|||
1
|
(Constant)
|
|||
INFLASI
|
.999
|
1.001
|
||
KURS
|
.999
|
1.001
|
||
a.
Dependent Variable: IHSG
|
||||
Tabel 1.9
Coefficient Correlationsa
|
||||
Model
|
KURS
|
INFLASI
|
||
1
|
Correlations
|
KURS
|
1.000
|
-.037
|
INFLASI
|
-.037
|
1.000
|
||
Covariances
|
KURS
|
.046
|
-.673
|
|
INFLASI
|
-.673
|
7335.139
|
||
a.
Dependent Variable: IHSG
|
||||
E.
Parameter
Regresi
Setelah dinyatakan bebas dari masalah
normalitas, multikolinieritas, lulus uji heterokedastisitas dan tidak ada
masalah autokorelasi, maka dari hasil hasil uji t, hasil uji F, serta uji
regresi linier berganda dengan menggunakan program computer SPSS 23.0 diperoleh
hasil estimasi persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
IHSG = -2805.89 - 215.17Inf
+ 0.695Kurs + ε
Bedasarkan persamaan regresi
linier berganda yang dihasilkan indeks IHSG akan bernilai mendekati angka
konstanta = -2805.89 jika semua variabel inflasi dan nilai tukar rupiah
nilainya mendekati angka nol.
Nilai variabel inflasi
berpengaruh negatif terhadap variabel IHSG sebesar -215.17. Setiap kenaikan inflasi
sebesar 1% dengan variabel lain dalam kondisi tetap, maka variabel IHSG akan
mengalami penurunan sebesar 215.17 satuan.
Hal ini bisa terjadi karena berdasarkan data statistik pada periode tahun
2001-2015 rata-rata inflasi adalah sebesar 7.55% sehingga bisa dikategorikan
sebagai tingkat inflasi menengah.
Variabel nilai tukar
rupiah terhadap dollar Amerika (kurs) berpengaruh positif terhadap IHSG
dengan koefisien sebesar 0.695, setiap kenaikan nilai tukar rupiah terhadap
dollar Amerika (kurs) sebesar Rp1,-/USD akan meningkatkan nilai indeks saham
sebesar 0.695 satuan. Hal ini bisa terjadi karena berdasarkan data statistik
pada periode tahun 2001-2015 rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dollar
Amerika adalah sebesar 10124.47. Nilai t hitung yaitu
sebesar 8,517 > t tabel = 2,000 dan angka signifikansi = 0,000 < α = 0,05
sehingga signifikan ( Ho ditolak dan Ha diterima). Dengan demikian hipoesis H2
bahwa kurs berpengaruh terhadap IHSG terbukti. Nilai ε pada persamaan
linier menunjukkan selisih antara indeks saham JII hasil prediksi persamaan
linier dengan indeks saham JII yang real.
F.
Uji
Hipotesis
a)
Koefisien
Determinasi
Dari
tabel hasil output SPSS diperoleh bahwa
nilai adjusted R square adalah sebesar 0.575 menunjukkan bahwa variasi variabel
independen mampu menjelaskan 57.5% variasi variabel dependen, sedangkan sisanya
yaitu sebesar 42.5% dijelaskan oleh variabel lain seperti Harga Minyak Dunia,
Harga Emas Dunia, PDB, BI rate. Nilai
koefisien korelasi (R) sebesar 0,758 menunjukkan bahwa kuat hubungan antara
variabel independen terhadap variabel dependen sebesar 75.8% ( Tabel 2.1).
Tabel 2.1
Model Summaryb
|
||||
Model
|
R
|
R
Square
|
Adjusted
R Square
|
Std.
Error of the Estimate
|
1
|
.758a
|
.575
|
.504
|
1243.22593
|
a.
Predictors: (Constant), KURS, INFLASI
|
||||
b.
Dependent Variable: IHSG
|
||||
b) Uji
F
Tabel 2.2
ANOVAa
|
||||||
Model
|
Sum
of Squares
|
Df
|
Mean
Square
|
F
|
Sig.
|
|
1
|
Regression
|
25092114.931
|
2
|
12546057.465
|
8.117
|
.006b
|
Residual
|
18547328.669
|
12
|
1545610.722
|
|||
Total
|
43639443.600
|
14
|
||||
a.
Dependent Variable: IHSG
|
||||||
b.
Predictors: (Constant), KURS, INFLASI
|
||||||
Dari hasil perhitungan
di atas dapat dilihat bahwa nilai signifikansi adalah sebesar 0,006 dan nilai F
hitung sebesar 8.117. Dasar pengambilan
keputusan adalah tingkat signifikansinya sebesar 5% atau 0,05. Karena nilai
signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka menunjukkan adanya pengaruh Inflasi dan
Kurs Rupiah secara simultan terhadap IHSG. Dasar pengambilan keputusan yang
lain adalah nilai F hitung harus lebih besar dari F tabel untuk menentukan
adanya pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependen. Dari
perhitungan di atas dapat dilihat bahwa nilai F hitung yang sebesar 8.117 yang
lebih besar dari nilai F tabel yang 4,67 (Tabel 2.3) maka dapat disimpulkan
bahwa variabel Inflasi, Kurs Rupiah berpengaruh secara simultan terhadap IHSG
dengan signifikansi sebesar 0.6% ( Tabel 2.2).
c) Uji
t
1. Pengujian
terhadap variabel Inflasi menghasilkan t hitung > t tabel (2.512 > 2.1604)
sehingga dapat dikatakan bahwa nilai Inflasi terhadap dollar AS secara parsial berpengaruh
positif signifikan terhadap indeks Harga Saham.
2. Pengujian
terhadap variabel nilai kurs dollar AS menghasilkan t hitung > t tabel
(3.240 > 2,1604) sehingga dapat dikatakan bahwa nilai kurs rupiah terhadap
dollar AS secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap indeks Harga
Saham.
.
G.
Kesimpulan
Hasil
hipotesis penelitan pengaruh Inflasi dan Kurs Rupiah terhadap IHSG yaitu :
1. Berdasarkan
hasil perhitungan diperoleh bahwa Inflasi berpengaruh negatif. Hasil ini
menunjukkan bahwa penurunan Inflasi akan mendorong kenaikan IHSG. Selama
periode penelitian, situasi perekonomian Indonesia cukup baik. Hal ini dapat
dilihat bahwa dari tahun 2001-2015, perekonomian Indonesia rata-rata tumbuh
sebesar 7% tiap tahunnya. (www.bps.go.id).
2. Berdasarkan
hasil perhitungan, diperoleh hasil kurs rupiah berpengaruh positif. Hasil ini
menunjukkan bahwa ketika nilai kurs rupiah naik maka IHSG ikut naik. Bagi investor
sendiri, pelemahan nilai kurs rupiah menunjukkan situasi fundamental
perekonomian Indonesia dalam kondisi suram. Ketika prospek perekonomian suram,
maka investor cenderung melepaskan saham-saham yang dimilikinya untuk
menghindari resiko. Aksi jual saham ini tentunya akan mendorong pelemahan IHSG.
H.
Saran
Dari
hasil penelitian ini, berikut adalah hal yang dapat diajukan sebagai saran:
· Investor
sebaiknya memperhatikan factor tingkat inflasi dan nilai kurs dollar terhadap
rupiah sebelum mengambil keputusan berinvestasi. Informasi-informasi tersebut
telah terbukti berpengaruh terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan di
BEI secara simultan dan sebagian dari factor-faktor tersebut juga dapat
mempengaruhi IHSG secara parsial, sehingga dapat digunakan sebagai bagian dari
pertimbangan untuk memprediksi IHSG dan kemudian dapat mengambil keputusan
dalam berinvestasi.
· Hasil
penelitian menunjukkan bahwa variabel Inflasi berpengaruh lebih besar dari pada
Kurs Rupiah terhadap pergerakan IHSG, sehingga variabel ini dapat dijadikan
pertimbangan utama pada saat pengambilan keputusan dalam berinvestasi di pasar
modal syariah khususnya investasi pada saham syariah kelompok Jakarta Islamic
Index.
DAFTAR
PUSTAKA
Ang, Robert, 1997, “ Buku Pintar :
Pasar Modal Indonesia “, First Edition Mediasoft Indonesia
Kewal,
Suramaya Suci. (2012). Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs, dan Pertumbuhan PDB
Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Jurnal Economia, Volume 8, Nomor 1
(April):53-64.
Mohammad
Samsul, 2008, Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Erlangga, Jakarta
Suad
Husnan, 2004, “Dasar Manajemen Keuangan”, Edisi ke empat, UPP STKIM YKPN.
Yogyakarta.
Sunariyah,
2006, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Kelima, UPP STIM,YKPN,
Yogyakarta.
Taufiq, Muhammad &
Batista Sufa Kefi, (2014) Pengaruh
Inflasi, Bi Rate Dan Kurs Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan.
Witjaksono,
Ardian Agung (2010). Analisis Pengaruh
Tingkat Suku Bunga SBI, Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, Kurs Rupiah,
Indeks Nikkei 225, dan Indeks Dow Jones terhadap IHSG. Tesis. Semarang :
Pascasarjana –Undip
[1] Suad Husnan, 2004, “Dasar Manajemen Keuangan”, Edisi
ke empat, UPP STKIM YKPN. Yogyakarta.
[2] Mohammad Samsul, 2008, Pasar Modal dan Manajemen
Portofolio. Erlangga, Jakarta
[3] Ang, Robert, 1997, “ Buku Pintar :
Pasar Modal Indonesia “, First Edition Mediasoft Indonesia
[5] Witjaksono, Ardian Agung (2010). Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI,
Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, Kurs Rupiah, Indeks Nikkei 225, dan
Indeks Dow Jones terhadap IHSG.
Tesis. Semarang :
Pascasarjana –Undip
[6]Zuhdi. (2012). Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs,
dan Pertumbuhan PDB Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Jurnal Economia,
Volume 8, Nomor 1 (April):53-64.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar